Home Berita Pasutri di Belitung Diminta Tunda Kehamilan di Masa Pandemi

Pasutri di Belitung Diminta Tunda Kehamilan di Masa Pandemi

3 min read
Komentar Dinonaktifkan pada Pasutri di Belitung Diminta Tunda Kehamilan di Masa Pandemi
1
8

TANJUNGPANDAN – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPPKBPMD) Kabupaten Belitung,
menyarankan pasangan suami istri (pasutri) menunda kehamilan selama pandemi Covid-19.

“Selama di masa pandemi itu yang kita gerakan, dan program sudah jalan. Jadi di masa pendemi boleh nikah, tapi tunda dulu kehamilan,” kata kepala DPPKBPMD Kabupaten Belitung, Suksesyadi kepada Belitong Ekspres, Rabu (28/7).

Menurut Suksesyadi, ada beberapa alasan mereka menghimbau hal itu. Diantaranya, dari kondisi ekonomi yang tidak stabil hingga faktor kesehatan.

“Alasannya karena kondisi ekonomi masih seperti ini. Kemudian kalau butuh pelayanan kesehatan dalam suasana Covid-19 berisiko cukup tinggi,” terangnya.

Dijelaskannya, selama masa kehamilan, ibu hamil berada dalam kondisi yang lebih rentan terpapar Covid-19 karena kondisi fisiknya cenderung lemah. Maka dari itu kesehatannya harus dijaga dengan serius.

Jika hamil saat ini, lalu sembilan bulan kemudian masih pandemi, maka seorang ibu harus melahirkan dalam kondisi pandemi. Sedangkan bayi juga berada pada kondisi yang lemah dan rentan.

“Wanita hamil itu wanita rentan, kemungkinan terserang juga ada, dan ketika lahir bayi dalam kondisi lemah, ditakutkan terpapar juga,” jelas Suksesyadi.

Kemudian Suksesyadi juga menyarankan pasutri di Kabupaten Belitung agar mengatur jarak kehamilan dengan tagline Berencana Itu Keren.

“Kami tidak melarang pernikahan, agama juga tidak melarang, tetapi normal. Kami sarankan kalau menikah 18 tahun, tolong tunda memiliki anak sampai usia 21 tahun, lalu mengatur jarak kehamilan,” paparnya.

Dia melanjutkan, usia matang menikah bagi perempuan yakni 21 tahun dan laki-laki 25 tahun. Kemudian tambah dia, setelah menikah perlu diatur jarak kelahiran yang dari sisi psikologi anak antara 3-5 tahun.

Hal itu kata Suksesyadi, untuk memberikan kesiapan mental bagi anak pertama, agar menerima saat perhatian orang tua dan keluarga terbagi kepada anak kedua atau adiknya tersebut.

“Kalau dari sisi program keluarga berencana, misalnya umur 21 tahun menikah, 22 tahun punya anak, kemudian 27 tahun tambah anak kedua. Kalau di atas 30 tahun sudah berisiko untuk kehamilan dan kelahiran selanjutnya,” sebutnya.

Dengan jarak 5 tahun antara anak pertama dan kedua, maka akan lebih mudah dari sisi ekonomi untuk mempersiapkan pendidikan tinggi bagi anak. Sehingga ketika anak pertama selesai kuliah, bisa fokus pada anak kedua.

“Ketika anak menyelesaikan pendidikan, orang tua bisa memantapkan keluarga, agar bisa fokus mengatur dana investasi, tabungan, rekreasi atau dana sosial,” tandas Suksesyadi. (dod)

Load More Related Articles
Load More By admin
Load More In Berita
Comments are closed.